Tak
bosan. Tak akan pernah bosan aku menatap sesosok gadis di hadapanku. Sangat cantik seperti bidadari, Senyum
yang akrab menyapaku di setiap hari-hariku…..
“Aku merindukanmu Della”
*****
“Della, ada bintang jatuh!!!”
“Lalu?”
“Kata
orang sih, kalau ada bintang jatuh… segala keinginan kita akan terwujud”.
“Apa kamu
percaya sama hal itu? Kamu kan cowo?”
“Emang
cowo nggak boleh percaya begituan?! Udah deh, mending kita coba dulu ajah!!”
Langit
malam bersolek indah malam ini. Gemintang anggun hiasi kepekatan malamnya. Dan
di bawah dekapan malamnya, ku habiskan waktu bersama della, sahabatku. Seorang gadis cengeng yang periang,
menyenangkan sekaligus menyebalkan. Gadis kecil keras kepala yang terus
mengajakku untuk main boneka bersamanya, meski ia tahu bahwa aku seorang bocah
laki-laki. Gadis cilik yang super cerewet dan mau menang sendiri. selalu
memaksa aku untuk terus memboncengnya mengelilingi kompleks perumahan kami,
meski kami sudah mengitarinya lebih dari 5 kali.
“Udah berapa lama ya kita saling kenal?”
tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari bibirnya.
“Nggak tau!! Emang kenapa? Toh, pada awalnya aku
terpaksa kan mau main dan kenal sama kamu!”
“Bawel amat sih, aku serius, Dhit!!”
“Emang siapa yang nggak serius sih?!”
“Jadi udah berapa lama ya kita jadi sahabat?”
“Enam tahun”.
“Sok tahu! Emang kamu beneran yakin?”
“. . . .”
“Dellaaaaa!!!!” tiba-tiba suara tante Lidya hadir memecah sunyi yang ada di antara kami.
“Dipanggil noh, Non”
“iya iya,..aku duluan ya Dhit. Sampai besok…:)”
“Aku yakin banget, Del. Kita udah deket selama enam tahun. Aku nggak
bakal lupa. Nggak akan pernah lupa, Del. Besok adalah genap enam tahun
pershabatan kita. Semoga kamu juga nggak lupa” ucapku
dalam hati setelah sosok Della
melangkah menjauh dariku.
*****
“dddrrrrt….dddrrrttt…ddrrrttt” getaran HP
From : Della
+628133xxxxxxx
Adhit, jangan lupa ya. Hari ini
kita janjian di taman biasa. Jam 9. Oke? Aku tunggu.
. . .
Sekali
lagi ku lirik jam tanganku. Pukul 09:05. Sampai saat ini aku belum menemukan sosok Della. Tak biasanya ia terlambat. Dia selalu tepat waktu.
Padahal, tadi aku sudah benar-benar terburu waktu, berusaha untuk tak terlambat
walau hanya untuk kali ini saja. Kekesalanku mulai muncul. Apa Della sengaja datang terlambat untuk mengerjai aku?
Awas saja dia.
Sembari menunggu, ku pandangi tulisan yang
terukir di pohon Mahoni yang rindang ini. Kami menulisnya tepat enam tahun yang
lalu. Dan sejak itulah, kami tetapkan hari itu sebagai hari jadi kami sebagai
seorang sahabat. Sahabat yang akan selalu hadir disaat salah satu di antara
kami jatuh ataupun sebaliknya. Sahabat yang selalu menjadi pendengar paling
baik bahkan terkadang melebihi orangtua kami sendiri. Selalu ada. Selalu
bersama. Sekarang. Dan selamanya. Amiin
Pukul
09:15. Della masih belum menampakkan sosoknya. Apa dia
baik-baik saja? Tak seperti biasanya ia terlmbat. Apalagi dia yang membuat
janji. Tak ada jawaban dari panggilan ku ke ponselnya. Semua pesanku juga tak
mendapat respon.
To : Della
08133xxxxxxx
Del, kamu dimana? Uda jam berapa ini, Sayang? Inget ya, aku sibuk. Nggak bisa
nunggu lama-lama aku. Kalau bisa bales sms ini. Harus!!!. Still waiting for
you, Del.
Tiga puluh menit.Empat puluh lima menit.
Dan sekarang, hampir satu jam aku menunggunya. Della masih belum hadir di sini. Aku ingin marah. Aku
benar-benar merasa dihianati. Tapi, sepertinya aku tak bisa. Ingin aku segera
angkat kaki dari tempat ini. Hilang harap sudah untuk yakin bahwa Della akan menginjakkan kakinya di taman ini. Baiklah
lima menit lagi. Ku beri kesempatan lima menit lagi. Tak lebih. Della, ku mohon…
----Lima menit kemudian….----
“Adhittt!!!”
Sebuah
suara menghentikan langkahku. Suara yang tak asing, begitu akrab di telingaku,
namun terdengar lemah. Suara Della. Aku
berbalik. Dapat ku lihat seutas senyum tersimpul di wajah Della. Ia tampak pucat. Lemas. Apa dia sakit? Tapi,….
“Maafin aku yah, Dhit….” Dia berhamburan ke pelukanku. Ia menangis
sejadi-jadinya. “Kamu marah kan sama aku? Maaf banget, Maaf”
Ku
rasakan bulir-bulir bening hangat basahi bajuku. Aku tak mampu berkata-kata.
Aku sendiri bingung dengan perasaan yang berkecamuk di dadaku. Apa ku harus
marah pada sahabatku? Atau apa? Aku harus bagaimana? Aku tak tahu.
“Nggak, Del… nggak,….” Ku tarik tubuhnya dari dekapanku.
“Adhit,…?” ujarnya pelan. Meluncur lagi bulir-bulir
bening dari kedua pelupuk matanya.
“Nggak, Dhit…. Nggak ada yang perlu dimaafin” ku rasakan
dingin pipinya saat ku usap air mata yang mengalir dari pelupuk matanya
“Emang
tadi kamu kemana?”
“Emm,… anu… ee… er… tt..taadi…”
“Tadi kenapa?” potongku sambil menariknya untuk
duduk di rumah pohon kami.
“Del, tadi kenapa?” ku ulang pertanyaanku sesampainya
kami di atas (di rumah pohon)
“Tadi,….. jam di rumahku mati. Ya, jamnya mati.
Jadi aku nggak tau kalau uda jam 9 lewat. Sori yah,…”
“kenapa nggak bales sms ku? Toh kamu juga bisa
lihat jam yang ada di hape kamu kan?”
“Em, hapeku mati. Batrey.nya habis. Sori…”
“Trus, jam di rumah kamu kan nggak cuma satu
kan, Del?”
“Iya sih, Cuma nggak tahu tuh… pada rusak
berjamaah. Tadi papa juga telat pergi ke kantor. Trus mama juga“
“iya iya. Aku ngerti kok. Nggak usah panjang-panjang ceritanya. Bawel!!”
“Dasar kamu!! Masih aja ya nyebelin.”
“Emang kamu ngapain ngajak ketemuan? Mau traktir
nih?”
“Iih, nih orang. Doyan banget ama yang gratisan.
Emang kamu lupa ya?”
“lupa?”
“hari ini kan genap enam tahun kita sahabatan.
Pikun banget sih kamu!!”
“O” jawabku sekenanya.
“Sumpah ya, kamu itu,….. awas kamu, Dhit…!!!” protesnya sambil memukul ku gemas.
“Tentu aku nggak lupa, Del. Dan aku seneng kamu juga nggak lupa”, batinku.
Kami
habiskan seharian untuk mengulang segala cerita akan kenangan yang telah kami
jalani bersama. Segala protes ia ajukan atas keisenganku selama ini. Dengan
riang ia bercerita dan tentunya dengan senyumnya yang tak pernah hilang. Selalu
hadir seperti biasanya. Senyumnya indah, meski harus hadir di wajahnya yang
selalu pucat. Sejak awal kami bertemu, memang ia tampak pucat. Awalnya aku
mengira dia mayat hidup, tapi…. Aku ragu akan ada mayat hidup yang bawel dan
super cerewet seperti dia. Dia tergoLung anak tertutup. Jarang keluar rumah.
Orangtuanya super protektif terhadapnya,meski kini ia sudah duduk di kelas XII
SMA. Tapi, aku tahu Della bukan anak manja. Aku juga yakin, orangtua Della pasti punya alasan kuat untuk bertindak
protektif terhadapnya hingga detik ini. Mungkin, karena dia anak
perempuan satu-satunya,….
“Del,…”
“Apa?”
“Kamu janji nggak bakal kaya tadi ya?”
“Maksud lu? ” jawabnya terheran-heran akan sikapku.
“Dasar oneng ya! Gua tuh coba bersikap perhatian
dan romantis sama Lu! Respon yang agak bagus dikit kek!” protesku.
Dia
hanya nyengir dan kembangkan sebuah senyuman di wajahnya kemudian. “Dhit, kamu mau janji sesuatu sama aku?”
“Apaan?”
Dia
menatapku lekat-lekat. Tampak sebuah rahasia tersimpan dalam dirinya. Sesuatu
yang sengaja disembunyikan dariku olehnya. Ditariknya napas panjang,
dihembuskannya perlahan kemudian.
“Kalau
nanti aku nggak bisa lama-lama ada sama kamu, ataupun nggak bisa lagi main
bareng kamu, kamu jangan marah sama aku yah, kamu“
“Kamu ngomong apa sih?” potongku cepat. Kata-
katanya sangat tak ku mengerti. Bahkan aku merasa aku membenci untuk mengerti
kata-kata yang baru saja ia ucapkan.
“Dengerin dulu…., Dhit”
“Bodo amat!!” jawabku sekenanya.
“Adhit,…” rengeknya.
“Udah sore, yuk pulang. Aku anter”
“Tapi,…”
“Udah, Aku nggak mau Tante Lidya entar ngomel-ngomel sama aku…”
“Dhit,…”
“Udah. Ayo!!..” paksaku sambil menarik tangannya
yang makin terasa dingin.
*****
“Nak, Adhit….” Suara tante Lidya lembut menyapaku.
Membangunkanku akan lelap.
“Udah Malam, Sayang. Kamu pulang gih. Besok kamu
harus kuliah kan? Bidang kedokteran bukan hal mudah, Sayang”
“Iya sih, Tan. Tapi… Della kan….”
“Kan ada tante disini. Besok masih ada hari,
kamu kan bisa ke sini lagi?”
“Ya udah tante, Adhit pulang dulu”
“ Hati-hati ya, Sayang”
Suasana kota Bandung makin
ramai. Kerlap-kerlip lampu kota beradu indah di
pinggiran jalan protocol utama. Suasana berbeda sungguh terasa saat aku
melangkah keluar dari gedung rumah sakit yang serba putih. Ku teruskan
langkahku ke gerbang utama rumah sakit. Ku hentikan sebuah taksi. Ku komando
sang sopir untuk bergegas menuju ke rumah karena hari makin larut, aku tak
ingin membuat mama khawatir akan aku. Dalam taksi teralun lagu “Seven Years Of Luve”
. Sebuah lagu yang kembali membangkitkan ingatanku akan kenangan bersama Della dulu. Saat dimana aku bisa melihat senyumnya
yang menenangkan. Teringat olehku, bahwa tepat 3 hari lagi pada setahun lalu adalah
hari dimana aku dan Della sempat
kembali mengukir janji. Della, aku
yakin kamu tak akan pernah melupakan janji kita itu.
*****
“Kak, ini lagu apa?” tanya Della sesampainya
kami dalam mobil.
“Pak Maman jalan yah. Udah sore nih, kasian Della”
“Iya, Den” jawab Pak Maman,sopir pribadi
keluargaku, patuh.
“Ih, Adhit. Jawab dong. Ini lagu apa?”
“Iya. Iya. Nyantai aja kali”
“Jadi?”
“. . .” aku hanya terdiam dengan pertanyaan Della
“Dasar!! Mending tanya Pak Maman aja. Pak, ini
lagu judulnya apaan yah?”
“Maaf, Non. Pak Maman nggak tahu lagu bule kaya
beginian” Jawab Pak Maman terlalu jujur.
“Emang kenapa sih, Del?”
“Aku suka ajah. Nggak boleh?”
“Suka lagunya atau penyanyinya?”
“Yee,… “
“Ini lagu judulnya, Seven Years of Luve” jelasku
“Kok tahu?”
“Ya tahu lah. Ini lagu kesukaannya Viny. Dulu
dia suka banget ama penyayinya. Jadi dia ngoleksi album plus posternya. Dan ini
salah satu lagunya”.
“Oh. Maaf kalau aku jadi harus
ngungkit-ngungkit masalah Viny. Aku..“
“Nggak apa. Nyantai aja” potongku kemudian.
“Tahun depan, aku harap kita bisa main-main lagi
kaya tadi. Tahun ketujuh persahabatan kita. Dan pastinya terus berlanjut sampe
tahun-tahun persahabatan kita berikutnya.”
“Kamu kenapa sih? Pastinya lah kita bisa terus
temenan. Kita masih punya banyak waktu, Del. Kamu kenapa sih?”
Ia hanya
diam. Keheningannya semakin membuatku penasaran akan apa yang terjadi pada diri
Della. Sebenarnya apa yang disembunyikan olehnya? Oh, Della. . . .
“Janji?”
ucap Della sambil mengangkat kelingkingnya.
“Untuk?” tanya ku keheranan.
“Tetaplah menjadi sahabatku dan tetaplah berada
di samping dan—“
“Janji” ucapku memotong perkataanya. Ku kaitlan
kelingkingku pada kelingkingnya kemudian.
*****
Ujian
sekolah telah usai. Namun, aku beserta kawan-kawan lainnya masih belum
benar-benar merasa merdeka. Kami masih harus berjuang dan bersaing untuk dapat
masuk perguruan tinggi yang kami inginkan. Dan kurang seminggu ke depan merupakan
hari dimana hajat akbar di sekolah kami akan dilaksanakan, Hari Perpisahan.
Hampir semua siswa antusias dalam hal ini. Berharap ini merupakan sebuah momen
yang tepat untuk mengukir sebuah kenangan terindah yang ada. Namun harapan itu
seakan jauh berbeda akan keadaan yang terjadi belakangan ini. Della tiba-tiba
menghilang. Tiada sedikitpun kabar darinya. Ia seakan hilang ditelan sang bumi.
Tak hanya
sekali aku menghubungi ponselnya, namun tetap tiada jawaban. Tak hanya satu dua
pesan yang ku kirim padanya, namun tak satupun yang dibalas. Aku coba mengirim
pesan padanya melalui dunia maya, tetap tak ada respon. Hingga hari ini,
sepulang sekolah, ku putuskan untuk mendatangi rumah Della.
Ting tong
Ting tong
Tak ada jawaban. Kali ini adalah panggilan terakhir
dariku. Sebagaimana adab yang ada, jika sang pemilik rumah sudah dipanggil 3
kali dan ia tak kunjung menyambut. Maka sebaiknya kita pulang, karena mungkin
sang tuan rumah sedang sibuk atau ada suatu kepentingan, atau saja ia sedang
tidak mau diganggu.
Ting tong. . .
Bel terakhir telah aku bunyikan. Berharap kali
ini benar-benar mendapat jawaban.
Satu menit…. Dua menit…
“Maaf, Den. Cari siapa?” seorang wanita paruh
baya berpakaian sederhana menyambutku. Beliau Bi Imah, pembantu di rumah Della.
“Della ada, Bi?”
“Em… anu, Den… Emm“
“Kenapa, Bi? Della baik-baik aja kan?” sergapku
kemudian.
“Aden ndak tahu toh?”
“Tahu apa. Bi?”
“Non Della kan lagi keluar kota sama Tuan dan
Nyonya”
“Apa? Kok Della nggak pamit ama aku, Bi? Della
baik-baik aja kan?”
“Em,,, anu, Den.. Bibi… ndak tahu” jawab Bi Imah
ragu-ragu.
“Bibi nggak bohong kan?”sergapku pada Bi Imah.
Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal akan kepergian Della dan keluarganya
“Nn…nndak kok, Den. Bener” jawab Bi Imah dengan
suara pelan.
“Yaudahlah, Bi. Adhit pulang dulu. Nanti kalau
mereka udah pulang, bilang yah aku kesini nyari Della” ucapku pasrah kemudian.
“Permisi bi”
“Oh iya den”
****
Hening
masih ada. Berputar-putar di aNantia kami. Aku, Pak Arif, guru BioLugiku, dan
Pak Sucipto, Kepala Sekolah. Aku masih terus bertanya-tanya akan alasan mengapa
aku dipanggil ke ruang kepala sekolah. Hal penting apa yang akan dibicarakan
beliau denganku? Kabar baik atau kabar buruk? Dua menit sudah pertanyaan itu
berputar-putar di otakku. Dan dalam waktu dua menit pula, aku serasa akan mati
tercekik rasa penasaran.
“Ehem..
ehem…” Pak Kepala sekolah berdehem, tanda beliau akan memulai pembicaraan.
Pak Arief tampak menggut-manggut, tanda beliau
siap untuk mendengarkan setiap kata yang akan keluar dari Pak Sucipto.
‘Dag.. dig… dug.. dyar!!’ detak jantungku
berdetak kencang, tanda aku siap untuk menerima segala kabar baik yang ada,
juga sebagai tanda bahwa aku tidak siap menerima kabar buruk yang ada.
“Begini, Nak Adhit……” beliau memulai
pembicaraan. “apa kamu sudah mendaftar untuk jenjang berikutnya di salah satu
universitas?”
“I..ii..iya, Pak”
Pak
Sucipto hanya manggut-manggut. Perlahan aku mulai berani mengangkat kepalaku.
Ku tatap lekat-lekat kepala botak beliau yang terlihat berkilau di bawah sinar
lampu TL.
“Selamat ya, Nak…” Pak Arief tiba-tiba angkat
bicara. “Kamu mendapat tawaran program beasiswa di alah satu universitas
terkemuka, dan—“
“Beneran, Pak!!” sambungku cepat, tak perduli
Pak Arief sudah menyelesaikan kalimatnya atau belum. Yang penting hepi ajalah
J. “Wah makasih nih, Pak…” ku raih tangan Pak Sucipto dan Pak Arief, dan ku
cium punggung tangan beliau berdua bergantian.
“Iya ya , Nak…. Selamat untuk kamu” ucap Pak
Sucipto penih wibawa.
“Ada masalah, Pak?”
“Begini, Nak… pihak universitas te;ah melihat
hasil belajar kamu selama bersekolah di SMA ini…”
“Dan?”sahutku tak sabar.
“Mereka menawarimu untuk masuk dalam bidang
kedokteran. Apa kamu berminat untuk masuk dalam bidang itu? Asal kamu tahu,
Nak. Bapak sangat mendukung jika kamu masuk dalam bidang itu”
“Begitu pula dengan Bapak, Adhit. Bapak sangat
mendukung tawaran itu. Ini kesempatan emas buatmu, Nak…” tambah Pak Sucipto.
“Biar saya pikirkan dahulu, Pak” jawabku
sekenanya.
“Baik baik… bapak beri kamu waktu sampai awal
bulan depan”
“Terimaksih, Pak”
“Sekarang kamu bisa kembali, Nak”
“Permisi, Pak..”
*****
Kedokteran?
Aku benar-benar tak yakin akan tawaran itu. Aku sama sekali tak tertarik dalam
bidang itu. Namun Pak Arif benar juga, ini kesempatan besar buatku. Aku harus
bagaimana?
Masih
dibawah pengaruh rasa bingung yang tak karuan, ku buka laptopku. Ingin ku
hilangkan semua penatku. Ku gerakan jemariku merangakai sebuah URL yang sedang
digandrungi remaja sebagian besar, www.twitter.com. Setelah melaluiproses Lug in, aku telah
sampai pada beranda dunia mayaku. Betapa terkejutnya aku saat kulihat akan
adanya puluhan Direct Message dan pemberitahuan
pada akun twitter-ku.
Dan…. Itu semua dari Della.
Dia kembali… pantaskah aku mengatakan kata
‘kembali’ untuk munculnya kabar dari Della? Huh, aku tak tahu.
“Adhitttt… toktoktok” suara Ibu buyarkan lamunan ku yang
tak karuan. “Ada Nak Della di depan…. Temuin gih,,,”
“Apa? Della?” batinku. “Iya, Bu… beNanti…”
sahutku kemudian. “Della muncul setelah sebulan lebih menghilang…sebenarnya apa
yang dia inginkan?” batinku masih tak percaya.
. . . . . .
“Hai, Dhit….” Sapa Della saat aku baru muncul dari balik
tembok. Aku masih tak tahu apa yang harus ku katakan padanya. Haruskah rasa
marah dan kecewa atas hilangnya kabar darinya secara tiba-tiba, yang ku
tunjukan? Atau, haruskah ku tumpahkan segala rasa rinduku padanya dan
mengenyampingkan semua kecewaku?
“Ngapain lu kesini?” tanyaku begitu saja.
“Sory Dhit,… aku…”
“. . . .”
“Aku ada keperluan ama keluargaku di luar kota.
Dan itu mendadak banget. Dan aku—“
“Nggak bisa pamit atau ngasih kabar kek?!”
potongku, kesal.
“Em… Aku…”
“Kenapa? Apa susahnya sih, Del?? Gua kecewa ama lu!”
“Dhit,… aku,,,” dia hanya menangis. Air matanya
mengalir deras dari kedua pelupuk matanya. Huh, aku membenci pemandangan ini,
melihat Della menangis.
“Udah lah, Del! KaLu Lu uda
nggak mau kita sahabatan lagi, bilang aja. Nggak usah kaya gitu, ngilang nggak
ada kabar. Sms, e-mail, telpon nggak ada yang Lu respon.” Ucapku mencak-mencak.
“Dhit,…” suaranya melemah. Wajahnya yang sedari tadi
pucat, makin memucat kini. Air matanya terus mengalir.
Dia menangis.
Aku kian terbakar api emosi.
“keluar dari sini!” ucapku padanya dengan nada
lebih rendah dari sebelumnya.
“Dhit,… aku“
“PERGI!!!” bentakku kemudian.
Aku
berbalik. Berharap Della tak mengetahui akan air mataku yang mulai meluncur
mulus di pipiku. Berharap Della segera menghilang dari rumahku. Masih ku dengar
isaknya untuk beberapa lama. Kemudian, ku dengarkan langkah kaki yang gontai
menjauh dariku. Della pergi…. Entah dia akan kembali atau tidak,… aku tak tahu…
Aku masih
berdiri terpaku di sini. Di tempat, dimana aku telah mengusir Della, sahabatku.
Potongan-potongan episode saat aku bersama dia bermain dalam memoriku. Bagai
film yang tengah di putar pada layar besar, begitu cepat. Gambaran akan
kebersamaanku dengan Della teramat jelas terlihat dalam anganku. Haruskah semua
kenangan iindah itu berakhir sampai disini?
“Dellaaaaaaaa”
ku teriakkan namanya sekeras mungkin, berharap dia akan berhenti menjauh dari
rumahku. Ku balikan tubuhku, segera aku berlari menyusulnya.
“Del…” ku tangkap sosoknya yang kian menjauh dari
pintu utama rumahku. “Dellaaaaaaaa” kali ini ku teriakkan namanya lebih keras
lagi.
Dia berhenti.
Aku pun berhenti berlari.
Dia berbalik.
Aku melangkah mendekatinya.
Dia menatapku.
Aku pun menatapnya.
“Del…” ucapku dengan napas tersengal.
“Dhit,…. Aku“
“Maafin aku ya, Del..” ku raih tubuhnya dan menariknya dalam dekapan
tubuhku.
“Maaf,…Maaf Dhit…” ucapnya sambil terisak dalam dekapanku.
“sssst…..” ku letakkan telunjukku pada bibirnya
yang pucat. “Udah,.. udah…semua udah berlalu. Aku yakin kamu punya alasan yang
kuat untuk kepergian kamu. Em,,,,,aku ada kabar baik nih,,,”
“Oh ya… apa?” ucap Della sambil mengusap garis
air mata di pipinya.
“Aku dapet beasiswa, Del….”
“Oh ya? Waw, selamat yaa…” ucapnya girang sambil
memelukku.“Hebat kamu…jurusan apa?”
“Itu masalahnya… aku bingung. Mereka nawarin aku
di bidang kedokteran.. kamu tahu kan, aku kurang ada minat dalam bidang itu“
“keputusan kamu gimana?”
“. . . “ aku hanya dapat mengangkat bahu.
“Kamu tanya sama hati kamu” ucapnya sambil
menunjuk dadaku, menunjuk dimana hati kecil berada
“makasii, Del. Lu emang
yang terbaik…” ucap ku tersenyum
“iya sama-sama” gumam nya dengan senyum
manis yang tergurat di wajah nya
“Nanti malam aku mau
traktir kamu makan. Oke? Buat ngerayain ini. Nanti aku jemput deh. Gimana?”
“Nggak usah jemput lah. Nanti aku usahain ya, Dhit…. Aku pulang dulu, tadi aku bilang ke Mama nggak
bakal lama-lama soalnya”
“okeh. See you later, girl! Jam 7 yah… hati-hati kamu“
*****
Pukul 20.00
Satu jam
lebih aku mematung di sini. Ku lirik jam tanganku, berharap waktu berhenti
detik ini juga. Ingin ku berikan kesempatan pada Della untuk dapat hadir di
sini tepat waktu. Tapi….. lagi lagi ia tak tepat waktu. Lagi lagi ia tak memberikan
kabar padaku. Ada apa lagi dengannya? Akankah dia menghilang lagi?
Jarum jam menunnukan pukul 20.45. Seharusnya
kami telah berkumpul, menghabiskan waktu bersama dengan senda gurau, dengan
tawa, dengan kegembiraan. Tapi…. Yang ada hanya aku yang sendiri, dalam hening,
dalam sepi
Pukul 21.00
Ku
putuskan untuk kembali ke rumah seorang diri. Seharusnya aku melangkah pergi
dari tempat ini berdua. Mengantar
Della pulang, karena hari telah larut. Semua tinggal rencana….. lagi
lagi Della mengingkari janjinya. Janji untuk datang pada malam ini. Janji untuk
selalu memberi kabar akan suatu halangan yang terjadi padanya. Lagi lagi Della
telah membuatku kecewa.
****
“Dhit,… ada yang nyari tuh!!” seru Rendra
kawanku dalam satu tim Futsal.
“Siapa?”
“Tuh” ucapnya sambil menunjuk seorang gadis
bermbut panjang dan berwajah pucat.
“Della?”
“. . .”Rendra hanya mengankat bahu. “Cantik Luh,
tapi sayang wajahnya pucet banget. Temuin Sana”
Akupun segera melangkah
menemui della
“Ngapain Lu di sini?” ucapku kesal saat sampai
di hadapannya.
“Aku tau hari ini kamu ada jadwal latihan Futsal.
Jadi aku langsung ke sini aja. Dan ternyata tebakan aku bener, kamu ada di
sini”
“Pulang sana! Aku sibuk!”
“Kamu marah?” dia bertanya dengan wajah polosnya. “Dhit, ….aku”
“Peduli apa Lu!! Pulang sana, Gua nggak butuh
temen kaya Lu!! Muna!”
“Aku bisa jelasin, Dhit… malam itu aku“
“Kenapa? Lu nggak bisa dateng karena jam di
rumah Lu mati lagi? Hape Lu Low batt,
jadi Lu nggal bisa sms buat ngasih kabar ke Gua?!” omelku panjang lebar
padanya. “Udah deh…. Gua capek!! Nggak sekali Lu kaya gini”
“Dhit..aku—“
“Dan Lu juga tahu kan, Gua paling nggak bisa
toleran ama orang muna kaya Lu!!!!”
“Tapi, aku punya alasan untuk ini, Dhit!!!
Dengerin dulu penjelasanku“
“Udah jelas semua!!!” potongku dengan nada suara
yang kian naik. “PERGI LU!!! Enek Gua ngeliat Lu di sini!!” kata-kata jahat itu
keluar tak terkendali dari mulutku. “PERGI!!!”
Aku
berbalik dan segera melangkah pergi menjauh dari Della. Berharap kali ini aku
tak akan berbalik dan mengejarnya seperti dulu. Hatiku terlanjur luka dan
bernanah. Aku benar-benar kecewa.
---beberapa menit
kemudian---
“Dhit… Dhit…..”
Dudi tergopoh gopoh ke arahku yang sedang asyik berkeluh kesah dengan bola Futsal.
“Ngapain?” jawabku malas.
“Cewe tadi... cewe yang barusan Lu temuin“
“Kenapa lagi?” potongku cepat. “dia balik lagi?
Maksa pengen ketemu Gua lagi? Usir aja! Bilang Gua lagi sibuk. Repot amat!”
“Eh…. Bukan!!! Denger dulu!!” bantahnya. “Dia
pingsan!!”
“hah..” sahutku dengan mata melotot dan hati yang kaget bukan main. “Dimana?”
“Di gerbang depan. Anak-anak lagi ngerubungin
dia tuh”
Segera ku berlari menuju gerbang depan.
Tubuh
gadis itu terbujur lemah. Wajahnya kian pucat. Mengalir darah segar dari kedua
lubang hidungnya. Orang-orang di sekitarnya hanya terdiam, asyik menonton
penderitaanya. Segera ku raih tubuhnya. Ku periksa denyut nadinya. Kian
melemah. Pun kulitnya kian terasa dingin.
“Apa yang kalian lihat hah? Panggil ambulans!!!
CEPAAAAT!!!!” ucapku mencak mencak tak karuan.
“Della……… bertahanlah…..” bisikku padanya lemah.
*****
“Apa? Kanker otak?” aku tercengang. Della tidak
mungkin mengidap penyakit itu. Aku tahu dia orang yang kuat. Tuhan….. “Kenapa
dia nggak cerita? Kenapa…. Aku nggak pernah tahu tentang ini?”
“Maafkan tante, Sayang. Della sangat sayang sama
kamu. Dia melarang tante dan om untuk cerita penyakit ini ke kamu. Dia nggak
pengen kamu khawatir, Nak” jelas Tante Lidya dengan nada yang sengaja dibuat
tenang.
“Separah apa kankernya?”
“Sudah stadium akhir. Sebulan yang lalu kami
mencoba untuk menjalani terapi diluar negeri. Namun, pihak kesehatan di sana
sudah menyerah, Nak. Terlambat bagi kami untuk melawan kanker di tubuh Della.
Sesampainya kami di rumah, Della langsung merengek memaksa untuk datang ke
rumahmu, Nak. Alhasil, beberepa malam lalu tubuhnya kembali melemah. Kondisinya
drop. Tadi pagi, saat dia sadar dan agak membaik, dia memaksa agar dia nanti ke tempat latihan Futsal tempat kamu biasa
latihan. Dia bilang, dia ada janji sama kamu. Tante nggak yakin untuk ngijinin
dia ketemu kamu, tapi dia memaksa. Dan sekarang………” tante Lidya terisak.
Kalimatnya terhenti. Airmuka yang tadi Nampak tegar, kini berubah menjadi
sesal.
Satu demi
satu kejadian yang ada di ceritakan Tante Lidya dengan rinci meski diselai dengan isak tangis yang kunjung henti
dari beliau. Semua seakan terputar kembali, bagai sebuah film kelam yang sama
sekali tak ingin ku saksikan namun terus ku bayangkan.
“Sabar ya, tante. Della itu orang yang kuat. Tante tahu itu kan?”
hiburku pada tante Lidya seadanya.
“Semoga saja, Nak. Dia sudah cukup lama
menderita karena kanker ini. Sudah hampir 9 tahun yang lalu. Dulu sempat pulih,
dan dokter sudah menyatakan dia sembuh. Tapi…… kanker itu muncul lagi…… ” Tante
Lidya tenggelam dalam isakan tangisnya yang pilu.
Papa Della
terdiam. Aku pun tertdiam, terduduk lesu penuh sesal.
Mengalir air mataku yang seakan percuma. Karena aku telah gagal melindungi Della.
Gagal menjaga Della.
Kini aku
tak tahu harus berbuat apa. Inginku putar kenbali waktu. Ingin ku cabut semua
kata-kata kasarku pada Della. Ingin ku hapus semua prasangka burukku akan dia.
Aku hanya bisa berlari. Membawa diri ini untuk menjauh dari badan Della yang
masih dalam kondisi kritis. Aku ingin terus berlari, berharap menemukan sebuah
jawaban atas segala segala rasa yang kini berkecamuk dalam dada.
Tiba-tiba
langit mendung. Tetes-tetes air langit turun basahi tanah bumi. Gemuruh
bergelegar, saling bersautan seakan alam sedang marah. Apakah sang alam marah
padaku atas Della? Terkutukkah aku sudah?
.
“Tuhan…..
kenapa Engkau gariskan ini terjadi padaku?” teriakku tak jelas, sesampainya aku
pada suatu tempat yang dahulu sering ku kunjungi..
“Kenapa Engkau biarkan ini terjadi dalam
hidupku untuk yang kedua kalinya, Tuhan? Belum cukup Engkau hancurkan hati ini
dengan kepergian Viny? Kenapa sekarang Della juga harus mengalami hal yang sama
dengan halnya Viny? Apa aku tak boleh bahagia, Tuhan? Apa aku memang tak pantas
untuk mencintai dan dicintai oleh orang-orang istimewa seperti mereka?”
Aku tahu ini salah. Tak seharusnya aku
menyalahkan kuasaNya yang Mahaagung. Tapi, harus dengan siapa lagi aku mengadu
kini?
“Viny, Lu
tahu kan gimana hancurnya hati Gua saat Lu emang harus ninggalin Gua untuk
selamanya?” tanyaku pada pusara yang ada di hadapanku. “Sekarang, Gua harus
ngalamin lagi yang namanya kehilangan orang yang Gua sayang, Dek…”
Aku hanya dapat terus terisak. Terus tenggelam
dalam banjiran airmata di bawah guyuran hujan. Terus berkeluh kesah akan semua
sakit yang ku rasa, pada pusara di hadapanku. Pusara yang bernisankan “Viny”.
Sosok teristimewa dalam hidupku. Adikku…..
*****
“Kamu
pinter banget menyembunyikan semua ini dari aku. Dasar anak nakal!” ucapku pada
sosok yang masih enggan membuka kedua matanya. Ia masih lelap dalam tidurnya
yang panjang. Meski demikian, aku beserta keluarga Della yakin, Della pasti
akan bangun dari lelapnya. Bangun untuk kembali tersenyum. Senyum yang mampu
untuk membuat sang mentarii malu
dan selalu ingin bersembunyi di balik awan.
“Kamu
tahu kan hari ini adalah hari yang kamu tunggu setahun yang lalu. Tujuh tahun
persahabatan kita. Kamu juga tahukan, sekarang aku uda kuliah di bidang
kedokteran. Apa kamu nggak pengen tau ceritaku waktu di kampus? Seru banget, Del!”
aku terus mngoceh sendiri. Entah, orang-orang di sekitarku telah menganggapku
gila atau tidak. Tak peduli, yang terpenting Della segera sadar dan dapat
kembali tersenyum. Walau matanya terpejam, aku yakin mata hati Della mampu
merasakan semuanya.
Ku letakkan tangannya di atas kepalaku. Ke
genggam erat tangnnya yang dingin. Ku cium punggung tangannya dengan penuh
rindu, penuh sesal.
“Selamat
hari persahabatan, Del. Seven years of our Love” bisikku sambil kembali mencium punggung
tangannya.
Ku
benamkan tubuhku dalam lipatan tanganku. Inginku pejamkan mata, dan menemuinya
dalam alam bawah sadar. Mencari bayangannya dalam tiap kenangan yang terus
mengaduk-aduk otakku.
---pukul 21.00---
“Dhit…..”
Suara itu terdengar lemah. Suara yang hampir
hilang dari pendengaranku 7 bulan lalu. Suara dari sosok yang ku rindu, . . . .
. . . .Della.
“Kamu udah sadar?” responku spontan. “Biar aku
panggil dokter yah, kamu tunggu bentar disini”
“Dhit,…” ucap Della sambil memegang pergelangan
tanganku, menghentikan langkahku.
“Nggak usah. Aku baik kok. Aku lagi nggak pengen
dapet ceramah dari dokter. Aku mohon..” ucapnya masih dengan lemah.
“Oke”. Ucapku patuh. “Aku akan kabarin Mama dan
Papa kamu-“
“Dhit…” kembali Della menatapku dalam. Ia
menggeleng. “Aku nggak mau ngerepotin mereka”
“ya ya ya” jawabku setengah kesal.
“Makasih” ucapnya sambil tersenyum
“Lu tidurnya lama amat, kaya kebo“ ucapku
membuka perbincangan pertama kami setelah hampir 7 bulan kami mematung dalam
perbincangan sunyi.
“Oh ya?”potongnya, berusaha memberi respon yang
baik.
“Tapi…. Lu kebo paling cantik di dunia, Del.”
“Gombal Lu!”
“Aku masuk kedokteran” bisikku.
“Selamat, Dhit” senyumnya mengembang di
bibirnya. Senyum yang selama ini aku rindukan. “Selamat hari persahabatn, Dhit”
lanjutnya lirih.
“Selamat juga buat kamu, Del” dapat ku lihat
senyumnya terus mengembang dalam wajah pucatnya. Senyumnya bagai bintang pagi
yang indah.
“Sekarang tanggal berapa?” tiba-tiba dia
bertanya demikian.
“29 Desember”
“Oh ya? Waktu berjalan cepet banget ya selama
aku nggak sadar..”
“Kan aku uda bilang kamu tidur kaya kebo” godaku
“Aku pengen ke taman, Dhit. Bukannya kita uda
janji untuk pergi ke taman ditahun ke-tujuh persahabatan kita?”
“Lu nggak lupa, Del :). Makasiih” batinku “Udah Malam, Del. Kamu juga baru sadar.
Besok aja yah”
“Ayolah, Dhit….. semua akan beda kalau besok.
Bukannya kamu juga udah janji?” rengeknya manja
“Nggak, Del!!”
“Dhit,…. Please”
“Diluar hujan, Del”
“Aku takut aku nggak punya waktu banyak untuk
ini, aku“
“Lu ngomong apa sih? Kesempatan kita masih
panjang” potongku karena risih akan kalimat yang belum terselesaikan oleh Della.
“Dhit,…” ku lihat mata beningnya mulai
tergenangi air mata.
Ini adalah kelemahanku. Aku paling tak tega jika
harus melihat seorang sahabatku seperti itu. “Oke, karena angka 7 merupakan
angka bagus dan katanya sih membawa keberuntungan, aku anter kamu. Tapi inget,
kamu juga harus sesuain sama kondisi kamu” jawabku kemudian.
“Oke, nanti kalau aku uda nggak kuat. Aku bakal
ngelambaiin tangan kok”
“Sinting Lu! Aku percaya kamu” ucap ku sambil tersenyum
“hihihi makasih” balas nya melempar
senyum pada ku
****
-pukul 23.45-
Hujan
masih belum reda, makin deras malah. Aku dan Della masih mematung memandangi
tiap tetes air langit yang turun, kemudian mengembun pada kaca mobil. Kami
berhasil sampai di taman ini dengan usaha yang tak mudah. Malam ini aku telah
melakukan satu tindak criminal. Menculik anak orang, sekaligus membawa kabur
pasien rumahsakit yang baru sadar dari koma.
“Hujannya
nggak kunjung reda. Mending kita balik aja yah. Besok kita ke sini lagi” ucapku
pada Della yang sedang asyik melukis pada kaca mobil dengan embunan air yang
ada.
Dia bebalik menatapku. Dia diam dalam beberapa
saat. “15 menit lagi hari ini akan berakhir Dhit”
“Justru
itu, Del. Mending kita pulang. Hari udah makin Malam dan ini sama sekali nggak
baik buat kondisi kamu, Del”
“Karena
hari tinggal 15 menit lagi, ayo kita turun dari mobil dan kita langsung menuju
ke rumah pohon. Akan menyenangkan walau waktu kita nggak banyak” ucap Della
seakan tak mendengar apa yang aku katakan sebelumnya.
“Del,… Lu
dengerin Gua ngggak sih?” protesku pada Della yang sedari tadi terus menerawang
jauh dan terus berbicara tanpa melihat aku.
“Dhit….
Waktu terus berjalan. Waktu kita nggak banyak” ucapannya seakan menandakan
bahwa ia benar-benar tak memperdulikan setiap ucapanku. “Ayo, Dhit…..”
lanjutnya dengan nada memaksa. Setetes bulir bening meluncur mulus dari hulu
pelupuk matanya
.
“Del,… come on…dengerin aku” paksaku sambli menarik
tangannya.
“Please,…” ucapnya melemah. Tetes airmata
berikutnya menyusul jatuh dari pelupuk matanya.
“Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa Del. Cuma
itu.”
“Aku akan baik-baik aja, Dhit. Aku yang tahu
seberapa kuat aku bisa bertahan dari semua ini”
Ku tarik
napas panjang. Berusaha untuk dapat memutuskan yang terbaik, tadi aku sudah
mengalah untuk nekat membawa kabur Della ke taman ini, dan sekarang…..
“Okelah,
Ayo” kubukakan pintu mobil untuknya.
“Thanks, boy”. Ucapnya senang, tentu dengan sebiah
senyum yang sempat hilang selama beberapa bulan lalu.
Sesaat
kemudian ia tampak bingung. Sepertinya ada masalah dengan kakinya. “Bisa bantu
aku untuk sampai ke rumah pohon?” tanyanya ragu dan sungkan.
“Ow,.. withpleasure Princess,…:)” ku raih
tubuhnya dan ku bopong dia. “Lu makin berat ya, harusnya tambah enteng!! Dasar
kebo!!”
“Sialan Lu!! Sini biar aku pegang payungnya”
tawarnya padaku.
Angin
bertiup makin kencang. Pun hujan tak lekas untuk sekejap menghentikan tiap
tetes yang ada. Hal ini makin memberatkan langkahku dan Della untuk dapat
sampai di rumah pohon kami.
“Aaahh,…” Della memekik kaget saat tiba-tiba
payung yang dibawanya terbawa tiupan angin. ‘Dhit,… maaf.. payungnya…” ucapnya
dengan suara makin lemah yang beradu dengan derasnya suara hujan.
“tenang, Del. Bentar lagi kita sampe” ucapku tergopoh-gopoh.
Ku
percepat langkahku. Tubuhku sudah kuyup, begitu pula Della. Melihat wajahnya
yang kian memucat, aku makin khawatir dan merasa serba salah.
“Kita udah sampe, Del” ucapku pada Della yang
tampak kian lemah di pangkuanku. Wajahnya kian memucat. Guyuran hujan makin
membuatnya lemah.
“makasiih, Dhit…” ucapnya sambil meraba ukiran tulisan
yang ada di pohon Mahoni milik kami. “Makasiih kamu udah mau temenin aku, jaga aku“
“Del,… udah… ” ku tatap matanya yang bulat nan
penuh akan ketulusan cinta. Ia tetap menggigil walau sudah mengenakan jaket
miliknya. Ku kenakan jaket ku untuk melapisi tubuhnya yang kuyup. “Aku seneng
banget bisa kenal dan bersahabat ama orang kaya kamu”
“nggak kerasa ya, udah tujuh tahun kita
sama-sama. Rasanya baru kemarin, tapi kenapa ya rasanya hari ini semuanya akan
berakhir—“
“Sssstttt,…… ku letakkan telunjukku pada
bibirnya yang pucat dan gemetar. “Waktu kita masih panjang” bisikku pilu.
“Aku harap, Dhit” ucapnya lelah sambil menarik
masuk tubuhnya dalam dekapanku. “Maaf kalau selama ini aku nyembunyiin masalah
ini ke kamu. Aku udah nggak jujur ke kamu”
Ku peluk
ia erat. Semakin lama semakin ku eratkan dekapanku padanya. Dan makin terasa
pula tubuhnya yang kian melemah dan gemetar. “Del, kita balik yah. Inget ama
janji kamu buat jaga kondisi kamu”
“Nggak, Dhit,….”
Ia menggeleng di dadaku, dalam dekapanku. “Semenit lagi, Dhit… hanya tinggal
semenit hari ini akan berakhir.. tetaplah seperti ini. Jangan lepaskan semua
ini, Dhit.” Ucapnya makin lirih dan lelah dari sebelumnya.
Ku
rasakan kulitnya yang kian dingin dalam genggaman tangannya. Ku eratkan pula
dekapanku pada tubuhnya, hanya berharap agar ia masih bisa merasakan hangat.
“Jangan tinggalin aku kaya Viny ya Del”
“Nggak, Dhit. Nggak akan.” Ucapnya pelan. “Dan
asal kamu tahu, Viny nggak pernah ninggalin kamu, dia selalu ada di sisi kamu. Dia
bener-bener adik yang
istimewa, Dhit. Seperti kata-kata kamu dulu”
“Iya,… dia istimewa” ucapku dengan linangan
airmata yang mulai jatuh. “Sama istimewanya sama kamu, Del” ucapku pahit. “Aku
sayang sama kamu, Del”
“aku juga, Dhit” ucapnya sambil menatap mataku
dalam. “Aku sayaaaang banget sama kamu :)” ujarnya sambil beruaha tersenyum
wajar. Meski tetap saja senyumnya makin menambah pahit luka hati ini.
“I Love you” bisikku.
“really?”
“I do. You’re a special one in my life. My best
friend. You never be changed in my heart” lanjutku padanya.
“I’m great to hear Del :). I Love you too, boy. You’re the best in my life. Kamu
anugrah paling indah, Dhit.”
Ku dekap
tubuhnya. Aku tak kuasa lagi untuk menatap matanya lebih lama. Tak memiliki
daya untuk mendengarkan setiap kata yang diucapnya lirih dan lelah. Ingin terus
ke peluk ia. Tak ingin melepaskannya. Seakan, jika aku melepaskan dekapanku
ini, maka aku akan kehilangan semuanya. Kehilangan untuk selamanya.
“Del aku harap kita bisa lebih dari
sekedar teman ya?” ucap ku pelan
“maksud kamu” gumam nya dengan muka
bingung
“Do you want to be a fixture in my life?”
ucap ku seraya menggenggam kedua tangan nya
“Of course my prince, I really want” ucap
nya dengan senyum seindah bintang di langit
Ku lirik
jam tanganku. Waktu telah menunjukan pukul 00.00 Tepat tengah hari. Jika sang
jarum jam bergeser sepersekian detik saja, maka hari bahagia bagi kami ini
berakhir sudah. Bersamaan dengan berjalannya sang waktu dan bergantinya hari,
hujan pun mereda , berganti dengan rintik gerimis yang turun. Angin yang
tadinya bertiup kencang, kini menjinak berganti dengan tiupannya yang sepoi
menenangkan.
“Del,… ayo balik ke rumah sakit. Hari udah berganti. Inget kondisi kamu”
ucapku memecah sunyi saat ku lihat sang waktu menunjukan pukul 00.01
“hmmm iya ayo dhit”
Kamipun kembali berangkat menuju rumah sakit, 1 bulan
2 bulan kanker otak yang menjangkit di dalam tubuh della secara ajaib mengecil,
dan pada bulan 3 kanker itu benar-benar hilang dan della pun dinyatakan sembuh
oleh dokter.
29 desember adalah tanggal yang tak akan pernah aku
dan della lupakan kami telah mengukir jalinan persahabatan selama 7 tahun. Dan pada
tahun 7 kekuatan cinta kami benar-benar di uji dan kami berhasil melewati itu
semua dengan cara yang tak pernah terlintas di pikiran kami sebelum nya. Kini di
tahun ke 8 adalah awal baru bagi kami berdua awal memulai jalinan cinta yang
lebih dari sekedar sahabat. Dan kami percaya semua harapan kami akan tentang
cinta ini akan bertahan lama, selama bumi masih berada di poros nya, selama
tumbuhan masih terus tumbuh keatas, selama dunia ini masih ada, cinta kami tak
akan pernah mati.
Created
by: Adhityo N
Follow
my twitter: @adhityo_np
Jika
anda ingin mengcopy teks ini harap cantum kan nama pengarang dan sumber.
Arigatou J